By. Maulida Rahmi
Lapangan hijau yang tidak besar itu nampak diisi oleh sejumlah murid, mulai dari laki-laki sampai perempuan. Mereka semua saling bersorak mendukung tim sepak bola kelas masing-masing. Tak ada yang ingin menahan suaranya pada saat itu, semua asik menyemangati pemain di tengah lapangan sana.
Tepat di tengah lapangan sana terlihat seorang remaja laki-laki tengah berlari sembari mengiring bola yang berada di bawah kakinya. Tak sedikitpun ia pedulikan lawan yang kian usil mengusik Langkah yang membawanya pada kemenangan. Semangatnya semakin menggebu saat melihat gawang dengan jaring putih di depan sana yang nampak terbuka lebar ingin segera dirinya masuki.
“GOOLLL!!!” Sorakan terdengar memenuhi lapangan pada pagi itu. Tapi nampaknya sorakan itu berubah menjadi gelak tawa yang begitu menggelikan saat sebuah sepatu melayang dengan bebasnya hingga masuk ke dalam mulut si penjaga gawang. Terlalu berlebihan memang, tapi memang begitulah kejadiannya.
Hahahaha!!!
“Sial, Bagas!” Desis Aldo menatap tajam si pelaku yang berdiri mematung di depan sana. Kedua tangannya kompak meremas ujung seragam olahraga hijau yang dia gunakan, keringat sebesar biji jagung juga nampak bersarang pada dahinya. Kini dia benar-benar ketakutan.
Aldo dengan langkah lebar melangkah mendekati Bagas. “Lo kasih makan dulu tuh sepatu, kelaparan kayaknya, hahaha…” Ucap Aldo tertawa. Jelas sekali jika remaja laki-laki itu mengejek Bagas yang kini tengah berusaha menahan malu mati-matian didepan semua orang. Apalagi saat Aldo dengan sengaja mengoyak bagian depan sepatunya lalu memperlihatkan kepada semua murid yang duduk di tribun.
“Si Bagas punya uang bukannya beli sepatu malah melihara perutnya yang udah kayak sapi betina bunting.”
“Emangnya dia punya uang? Bukannya dia orang miskin ya? Upppss… sorry, tapi kenyataan hahaha!”
“Aldo kembaliin sepatu aku.”
“Lo mau sepatu ini?” Tanya Aldo yang langsung dibalas dengan anggukan kepala oleh Bagas. Dia memang menginginkan sepatu itu, dia tak ingin Aldo semakin mempermalukan dirinya dihadapan semua orang.
“Nih ambil!” Belum sempat sepatu itu hinggap ditangan Bagas tapi malah Kembali terbang ke atas genteng kelas yang tak jauh dari sana. “Ambil sana, mau sepatu kan? Udah sana ambil. Bye, bye, Bagas. Selamat memanjat.” Ucap Aldo seraya melengga pergi bersama kedua temannya tanpa rasa bersalah sedikitpun, meninggalkan Bagas yang tengah menatap nanar sepatunya di atas sana.
Satu persatu dari mereka mulai meninggalkan lapangan tanpa ada satupun orang diantara mereka yang ingin membantu Bagas untuk mengambil sepatunya. Setelahnya Bagas berusaha sebisanya untuk bisa mengambil sepatunya di atas genteng, meski dia harus bolak-balik untuk mencari tangga.
“Gas, makan dulu. Ibu udah buatin tempe sama tahu bacem kesukaan kamu loh.” Ucap Marni menghampiri putranya yang sejak pulang sekolah tadi asik termenung di depan pintu.
“Bagas nggak mau makan kalau Ibu belum beliin Bagas sepatu baru.”
“Nanti kalau Bapak punya uang, kita beli sepatunya ya?”
Bagas menoleh menatap Ibunya, air mata nampak tertahan dipelupuk matanya. “Tapi, Bu. Bagas maunya dibeliin sekarang. Ibu nggak tau kan kalau Bagas di sekolah selalu diejek sama temen-temen? Kata mereka sepatu Bagas udah kayak kambing kelaparan.”
“Mana kambing kelaparannya? Sini biar Bapak kasih makan dulu biar dia nggak kelaparan lagi.” Ucap Sarno yang tiba-tiba datang dengan sepeda ontel miliknya yang sudah tidak baru lagi. Bagas yang melihat Bapaknya lekas menghampiri pria yang sudah masuk usia senja itu.
“Pak, Bagas mau sepatu baru. Bapak beliin ya?” Pinta Bagas. Dia menggenggam tangan keriput milik Bapaknya seakan memohon.
“Sini duduk dulu biar bapak liat dulu sepatunya. Kalau masih bisa diperbaiki biar Bapak jahit aja, tapi kalau nggak ya terpaksa harus Bapak akalin biar tetep bisa dipakai sama jagoan Bapak satu ini.” Ucap Sarno. Meski binar matanya tidak seterang dulu, tapi percayalah di sana terdapat sorot kasih saying yang begitu besar untuk putra satu-satunya itu.
“Gas,” Sarno mengusap pelan kepala putranya itu. “Bapak bukannya nggak mau beliin kamu sepatu baru, tapi sekarang Bapak emang lagi nggak ada uang. Kalau sekarang nih ya Bapak punya uang langsung Bapak ajak kamu ke Pasar Minggu. Lagian orang tua mana yang tega liat keadaan anaknya serba kekurangan gini? Bapak janji, nanti pas Bapak gajian langsung dibeliin sepatu barunya. Kamu mau sepatu yang kayak gimana, kalau semisalnya nanti Bapak gajian?” Tanya Sarno. Dia tak ingin membuat harapan semu untuk anaknya tapi dia akan berjanji untuk mewujudkannya.
“Bagas mau sepatu warna merah yang minggu lalu kita liat di toko Koh Aling!” Jawab Bagas dengan semangat. Jelas saja ingatannya masih mereka bagaimana bentuk sepatu merah yang dipajang pada etalase toko Koh Aling. Sepatu itu sangat cocok jika digunakan untuk sehari-hari bahkan untuk bermain bola.
“Nanti ya kalau Bapak udah gajian langsung dibeliin deh.”
“Janji ya, Pak? Bapak nggak akan boongin Bagas?” Tanya Bagas, dia mengangkat jari kelingkingnya di depan Sarno.
“Iya, Bapak janji. Lagian kapan sih kamu liat Bapak boong gitu?” Balas Sarno yang berbalik menautkan jari kelingkingnya dengan Bagas. “Yaudah mana sepatunya? Biar bapak liat dulu gimana keadaannya.”
Bagas Kembali dengan sepatu ditangannya dan langsung memberikan sepatu itu kepada Bapaknya. “Ini mah masih bisa, Ga. Dijahit aja udah bisa dipakai lagi sama kamu besok ke sekolah.” Ucapnya. Setelah itu Sarno langsung memperbaikin sepatu anaknya itu.
Bagas dengan Langkah riangnya melangkah melewati sejumlah mirid lainnya yang malah menatap dirinya dengan tatapan aneh. Tapi apa peduli Bagas, kini dia sudah tak malu lagi karena sepatunya sudah dijahit oleh sang Bapak dan sudah terlihat baik-baik saja. Tidak ada lagi sepatu seperti kambing kelaparan seperti kata Aldo.
Baru juga kakinya melangkah masuk ke dalam kelas, dia langsung disambut dengan penampakan di mana sejumlah orang berdiri mengelilingin meja guru yang ada di depan.
“Bagus banget sepatunya, Al. Beli di mana? Jadi pengen juga gue.” Celetuk seseorang yang tak Bagas ketahui siapa.
“Ini tuh nggak dijual di Indonesia, Papa aku belinya di luar negeri. Bagus kan?” Kalau yang ini sih Bagas sangat hafal siapa pemilik suara yang kadang terdengar mengerikan ditelinganya.
Nampak Aldo mengangkat sepatunya tinggi-tinggi seperti ingin menunjukkan pada dunia bagaimana bagusnya sepatu berwarna biru itu. Karena jujur saja Bagas juga mengakui jika sepatu yang ada ditangan Aldo itu sangat-sangat bagus.
“Orang miskin mana mampu beli, jangankan yang asli yang kw aja mereka nggak mampu.” Imbuh Aldo lagi. Entah dia ingin mengejek Bagas atau tidak, tapi yang jelas dari tatapannya jelas itu mengarah pada Bagas yang masih diam di depan pintu masuk kelas.
Bagas berusaha untuk tidak peduli dan memilih untuk langsung menuju mejanya yang ada pada barisan paling belakang. Di sana dia hanya duduk sendirian tanpa adanya teman sebangku seperti temannya yang lain. Teman? Pantaskah dia menyebut mereka semua teman? Bahkan mereka saja terlihat jijik jika berada di dekatnya. Lantas bagaimana dia bisa menyebut mereka semua teman?
“Nggak papa, Gas. Bapak udah janji bakal beliin kamu sepatu baru pas gajian.” Ucap Bagas berusaha untuk menenangkan dirina sendiri yang kadang diliputi rasa iri terhadap Aldo. Karena Bagas merasa hala apapun yang Aldo mau pasti akan dikabulkan oleh kedua orang tuanya, sedangkan dirinya kadang harus menelan kemauannya saat melihat keadaan keluarganya yang jauh dari kata baik-baik saja. Bahkan untuk makan saja Bapaknya harus bekerja keras pada sebuah pabrik industri yang tidak jauh dari rumah, sedangkan ibunya hanyalah penjual gorengan keliling yang dari pagi pergi untuk menjajakan jualannya dan pulang saat jualannya benar-benar ludes atau bahkan kadang pulang dengan setengah sisa gorengan yang ujung-ujungnya akan di makan oleh mereka untuk makan siang atau malam.
“Jadi, tujuan Bapak mengumpulkan kalian di sini adalah untuk merekrut beberapa orang untuk ikut serta dalam turnamen sepak bola antar sekolah yang akan diadakan bulan depan. Bapak tetap akan melatih kalian semua, tapi diujung latihan nanti Bapak hanya akan mengambil beberapa orang saja untuk mewakilkan sekolah kita.” Jelas Pak Indroe selaku guru dibidang olahraga.
Di depannya saat ini telat berbaris lima belas orang murid laki-laki dan salah satu diantara mereka adalah Bagas. Dari wajahnya terlihat sekali jika remaja laki-laki itu begitu senang saat tadi namanya dipanggil oleh Pak Indroe, meskipun belum tentu dirinya bisa lulus pada Latihan yang dimaksud. Tapi dia akan mencoba untuk menunjukkan sesuatu yang terbaik dari dirinya nanti dan semoga saja dirinya dapat masuk ke dalam list nama-nama orang yang dinyatakan lolos untuk ikut serta mewakili sekolah.
“Jadi jangan lupa nanti besok sore kalian harus sudah ada di sekolah. Jangan sampai gugur sebelum latihan apalagi sebelum berjuang.”
“Baik, Pak!”
Kini Bagas sudah sampai di rumah, entah mengapa sejak pulang tadi dia merasa sesuatu yang lain dari dirinya. Bukan, bukan dirinya tapi tasnya, kenapa terasa sedikit berat dari biasanya? Tak ingin dibuat penasaran dia segera membongkar isi tasnya itu dan betapa terkejutnya Bagas saat menemukan sepatu biru yang tadi pagi dia lihat berada di tangan Aldo tapi kini sudah berpindah ke dalam tasnya.
Sumpah dia benar-benar tidak tahu kenapa bisa sepatu itu bisa nyasar ke dalam tasnya. Bahkan dia sama sekali tidak menyentuh sepatu itu. Lantas bagaimana bisa sepatu itu bisa ada di dalam tasnya? Pasti ada seseorang yang sengaja mengerjai dirinya, tapi siapa? Tidak mungkin Aldo sendiri bukan?
“Kenapa sepatu Aldo ada di tas aku? Siapa yang masukin?” Tanya Bagas pada dirinya sendiri. Ingin mencari jawaban pun tak ada karena memang dia tahu penyebabnya kenapa itu sepatu bisa berada di dalam tasnya.
“Besok sore aja aku kembaliinnya, sekalian sama latihan.” Berhubung besok hari minggu tidak mungkin bukan jika dia harus ke sekolah? Ingin menghampiri rumah Aldo pun dia tidak tahu alamatnya di mana.
“Dasar miskin! Kalau nggak mampu beli minimal jangan nyuri punya orang.” Bentak Aldo.
Kini mereka semua sedang berkumpul di lapangan sekolah. Pak Indroe masih belum keliatan dan Aldo menggunakan waktu itu untuk bebas memaki dan mengatai Bagas. Di bawah sana terlihat remaja laki-laki dengan baju kaos biru dongker yang agak lesu nampak tertunduk dalam. Niatnya hanya ingin mengembalikan sepatu Aldo yang berada di dalam tasnya tapi malah berujung dituduh mencuri sama semua orang. Dia tak dapat membela diri sekarang, sebab sejak tadi Aldo dan yang lainnya terus memojokkan dirinya, bahkan mereka tidak membiarkan Bagas untuk bersuara untuk membela dirinya sendiri.
“Iya nih, Gas. Minimal kalau nggak mampu jangan nyuri. Keliatan banget nggak mampunya jadi orang. Lain kali kalau mau, minta kek atau apa. Lagian gue rasa lo nggak pantes tau pakek sepatu mahal kayak gini.” Imbuh Johan. Dia menatap Bagas dengan tatapan puas, puas membuat Bagas malu di depan semua orang.
Aldo mendekat dan tanpa aba-aba dia mendorong kuat bahu Bagas hingga membuat remaja itu jatuh terduduk. Ia nampak meringis kala pantatnya menyentuh tanah yang dipenuhi oleh bebatuan. Tanpa rasa kasihan Aldo memukul wajah Bagas dengan menggunakan sepatunya, matanya menatap tajam tepat pada manik mata berair milik Bagas. Jujur Bagas ingin menangis sekarang, seumur hidup baru kali ini dipukul oleh seseorang, karena sebelumnya Aldo tidak pernah main tangan tapi main mulut.
“Besok-besok kalau mau nyuri liat dulu orangnya siapa, kalau bukan gue mungkin lo bakal aman, tapi kalau gue… nggak bakal segan buat bikin lo babak belur di sekolah.” Ancam Aldo sembari menunjuk wajah Bagas dengan sepatunya.
“Hey! Ada apa ini? Kenapa kalian tidak langsung ke lapangan untuk pemanasan?” Tanya Pak Indroe. Pria setengah baya itu mendekat untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Aldo yang memang sudah terlatih untuk bersandiwara setelah melakukan aksinya langsung menggenggam tangan Bagas berusaha menariknya untuk bangun. “Makanya Gas, lain kali kalau jalan itu hati-hati. Ini Pak, si Bagas kesandung sampek jatuh, jadi saya tolongin deh.” Ucap Aldo dengan senyum palsu bahkan Bagas juga terpaksa memasang senyum palsu saat tangannya di cengkram kuat oleh Aldo.
“Saya yang kurang hati-hati, Pak.”
“Yasudah, kalau begitu kalian langsung berbaris di lapangan.” Perintah Pak Indroe.
Setengah jam agaknya mereka berlatih, kini mereka sudah diizinka untuk pulang. Lagi-lagi Bagas Kembali dihadang oleh Aldo dan antek-anteknya.
“Jangan cuma gara-gara tadi lo pikir gue udah bersimpati sama lo. Inget ya Gas, lo tuh bakal terus jadi bahan bulian kita. Karena anak miskin kayak lo pantes dapetin hal itu, lo cuma nyampah di sini.” Ucap Aldo. Remaja itu begitu membenci Bagas entah apa alasannya. Yang jelas saja dia benci melihat Bagas itu.
Bagas menatap kepergian Aldo yang mulai menjauh dari sana dengan tatapan sedih. Kenapa mereka semua tidak dapat menerima kehadiran dirinya ditengah-tengah mereka? Padahal dia hanya ingin berteman, hanya hal sederhana itu yang Bagas inginkan, tapi mengapa bisa sesusah itu untuk ia bisa mendapatkannya.
Tiga minggu setelah melewati serangkaian latihan yang melelahkan, kini mereka kembali dikumpulkan di tempat yang sama untuk mendengar setiap arahan yang nantinya akan di sampaikan. Hari ini adalah hari terakhi mereka latihan sampai minggu depan mereka langsung turun lapangan dan langsung menghadapi tim lawan.
“Aldo, Jery, Johan, Nikmal… Bagas. Kalian yang tadi Bapak sebutkan namanya dinyatakan lulus dam akan mewakili sekolah pada turnamen minggu depan. Lalu untuk yang tidak Bapak sebutkan namanya jangan sampai berkecil hati apalagi sampai patah semangat, berlatih yang giat lagi. Tidak kali ini mungkin kali berikutnya, peluang akan selalu hadir untuk mereka yang giat dan yakin.” Ucap Pak Indroe yang berusaha untuk menyemangati muridnya yang tidak lulus sebagai pemain.
“Untuk kedepannya kita harus berlatih lebih keras lagi. Kita harus membuktikan bahwa sekolah kita juga bisa bersaing dengan sekolah besar lainnya. Dan untuk sesi latihan hari ini Bapak tutup sampai di sini, yang mau pulang boleh langsung pulang dan jangan kelayapan ke tempat lain.”
“PAK! SAYA KEBERATAN KALAU BAGAS IKUT MAIN BARENG KITA.” Ucap Aldo tiba-tiba, membuat Pak Indroe yang awalnya hendak pergi malah menghentikan langkahnya.
“Kenapa kamu keberata, Aldo? Apa kamu pikir penilain saya salah saat memilih anak yang berbakat untuk tim kita?”
“Bukan gitu Pak, saya memang yakin jika dibandingkan saya dengan dia jelas saya lebih unggul, tapi gimana caranya dia bisa main kalau sepatu aja enggak punya. Maksunya bukan nggak punya tapi udah rusak, jelas-jelas itu akan memalukan tim sekolah kita. Mending ganti aja Pak, ada Renaldi yang menurut saya lebih mumpunin sebagai pemain.”
Bagas menatap tak percaya Aldo, apa segitu tidakn Sukanya Aldo pada dirinya, bahkan dia berusaha untuk menjelekkan dirinya di depan Pak Indroe. Padahal selama latihan dia sudah berusaha keras dan dia cukup percaya diri untuk lolos. Karena dia yakin inilah balasan untuk jerih payahnya selama tiga minggu ini.
“Maaf kalau saya nyaut, Pak. Tapi saya janji nanti pas ikut turnamen saya udah punya sepatu, karena Bapak saya udah janji buat beliin sepatu buat saya. Jadi saya hanya perlu nunggu sampai Bapak saya gajian.” Ucap Bagas berusaha untuk membela dirinya sendiri.
“Mana mampu beli sih Bapak kamu itu, palingan gajinya cuma cukup buat beli tahu tempe.” Ejek Aldo takt ahu kondisi, padahal saat itu masih ada Pak Indroe di sana tapi laki-laki itu tidak takut sama sekali.
“ALDO!! Dengarkan saya, saya memilih pemain bukan karena sepatu apa yang mereka pakai, tapi kemampuan bagaimana yang mereka punya. Untuk apa punya sepatu mahal kalau potensi mereka di dunia sepak bola nol? Nggak akan ada gunanya. Jangan bikin saya marah sampai harus gantiin kamu sama yang tidak terpilih. Saya yakin dengan pilihan saya pada Bagas, karena saya melihat bagaimana giginya Bagas selama latihan ini. Tapi apa yang saya lihat dari kamua? Kamu hanya terlihat bermalas-malasan karena saya menempatkan kamu sebagai kipper, padahal itu sangat berpengaruh terhadap kemenangan sebuah tim. Bapak sedikit kecewa sama kamu dan untuk Bagas, tidak apa tidak punya sepatu, nanti akan Bapak pinjamkan punya keponakan Bapak yang seumuran sama kamu.”
Semua terdiam, bahkan Aldo yang sempat meningginkan suaranya tadi. Pak Indroe benar, untuk apa sepatu mahal jika kemampuan kita nol. Itu tidak akan ada gunanya dalam pertandingan nanti. Karena saat pertandingan bukan sepatu yang mereka pamerkan kepada penonton tetapi kemampuan kita dalam bermain dan bermain strategi saat di lapangan.
“Sekarang kalian semua pulang, Bapak tidak ingin hal ini kembali terulang. Terutama kamu Aldo, Bapak tidak suka dengan sikap kamu yang mencoba untuk merendahkan Bagas tadi.” Aldo hanya diam sambari menundukan kepalanya tak berani menatap Pak Indroe di depannya saat ini.
Akhirnya kini Bagas sudah sampai ke rumah setelah menghadapi drama yang dibuat oleh Aldo tadi. Bagas duduk dengan Sarno di depan rumah sambil memakan gorengan lebih yang di bawa pulang oleh Marni karena tidak laku.
“Pak, tau nggak? Minggu depan Bagas bakal wakilin sekolah buat main bola di sekolah sebelah. Doain biar tim Bagas menang ya, Pak.”
“Pasti, Bapak bakal terus doain yang terbaik buat jagoan Bapak satu ini. Semoga di masa depan bisa jadi pemain sebak bola hebat dan terkenal.”
“AAMIIN!” Ucap keduanya kompak.
Bagas terdiam, dia ingin menanyakan sesuatu kepada Bapaknya, tapi dia ragu. Tetapi jika dia menahannya juga tidak akan mengubah apa-apa. Sebaiknya dia langsung bilang saja kemauannya. “Pak, soal sepatu jadi kan? Soalnya Bagas nggak mungkin main bola pakek sepatu ini, belum lari udah keduluan copot.” Bagas menggigit bibir bawahnya dalam kegelisahan, semoga jawaban Sarno sesuai dengan keinginannya.
“Tenang, beberapa hari lagi Bapak gajian. Nanti langsung Bapak beli aja tanpa ngajak kamu, soalnya kamu udah liat gimana sepatunya. Kalau buat ukurannya jelas Bapak udah hafal punya kamu.” Sarno berucap tidak berbohong. Memang beberapa hari dirinya gajian dan itu sangat pas untuk membelikan Bagas sepatu baru untuk turnamen yang akan dia ikuti.
“Syukur, Pak. Bagas udah takut duluan kalau nanti Bagas nggak punya sepatu.” Ucap Bagas lega. Soal di sekolah kemarin dia rasa Sarno tak perlu tau, karena dia takut akan membuat Bapaknya sedih dengan keadaan dirinya yang selalu dirundung di sekolah.
“Habisin dulu nih bakwannya, habis itu langsung mandi. Nanti habis mangrib langsung ke rumah Pak Wira buat ngaji.”
“Iya, Pak.”
Sarno tersenyum Bahagia, ditangannya terdapat sebuah amplop yang berisi sejumlah uang hasil kerja kerasnya selama sebulan ini di pabrik. Tak hanya gaji, kali dia juga memperoleh bonus dari bos nya karena sering lembur. Demi keluarga apapun akan Sarno lakukan, apalagi untuk melihat senyum senang anaknya saat dibelikan sepatu baru nanti.
“Eh Sarno, ada apa? Ada yang bisa owe bantu?” Tanya Koh Aling yang tengah duduk di meja kasir. Tapi saat melihat Sarno masuk ke tokonya dia langsung menghampiri pria itu.
“Ini Koh, saya mau nyari sepatu baru buat si Bagas. Kasian sepatunya udah rusak, mumpung saya juga habis gajian.”
“Sepatu baru a? mau yang bagaimana? Biar owe ambilin.”
Sarno menyapu pandangannya pada etalase yang ada di depan, dia tengah mencari sepatu merah yang Bagas maksud beberapa hari yang lalu. Tak lama perhatiannya langsung tertuju pada sepatu merah yang terpajang rapi di etalase depan. Dia bergegas menghampiri etalase itu dan langsung mengambil sepasang sepatu itu, membawa menuju Koh Aling.
“Yang ini berapa Koh?”
“Kalau yang ini biar owe kasih murah buat lu. Owe sering liat si Bagas lewat di depan toko, tapi owe nggak tau dia ngapain. Dua ratusan ajaa, langsung bungkus.” Ucap Koh Aling.
“Ambil Koh, langsung di bungkus aja. Sekalian dipakaian kertas kado, biar surprise buat si Bagas.”
Koh Aling membawa sepatu merah itu menuju meja kasir lalu membungkus sepatu itu menggunakan kertas kado dengan gambar pemain bola. Sarno mengambil sepatu itu tak lupa ia juga memberikan uang kepada Koh Aling sebagai bayaran. Kemudian dia kembali mengayuh sepedanya berniat untuk pulang, tapi sebelum itu dia akan membeli ayam goreng untuk makan siang nanti, Pasti Bagas akan sangat senang, apalagi mereka sangat jarang bisa makan ayam goreng begini. Pasti remaja laki-laki itu akan senang ditambah lagi dengan sepatu baru yang akan Sarno hadiahkan nanti kepadanya.
Sarno menatap kiri kanan memastika jika taka da lagi kendaraan dan dia bisa menyeberang jalan menuju warung makan diseberang sana. Melihat jalanan yang sudah sepi dia langsung mengayuh sepedanya dengan cepat, tanpa Sarno sadari dari arah yang berlawanan muncul sebuah motor yang dikendarai oleh anak sekolahan melaju menebas jalanan yang pada saat itu hanya dilalui oleh Sarno yang ingin menyeberang.
Kecelakaan tak bisa dielakkan. Sepeda Sarno ditabrak dengan kuat membuat dirinya terpental jauh kedepan. Sepedanya sudah dilindas oleh motor itu sedang Sarno terkapar tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur dari kepalanya dan juga bagian lengan serta lututnya. Orang-orang yang sedang duduk di warung makan langsung keluar untuk melihat kejadian itu, taka da yang berani mendekat. Mereka semua memilih untuk menuggu polisi datang ketimbang masalahnya akan membesar.
Sedangkan si pelaku juga tak kalah dari Sarno. Motornya jatuh di tengah jalan, tapi dia masih bisa berdiri. Dia berlari mendekati tubuh Sarno. Pada saat itu kesadaran Sarno masih ada, saat melihat seragam si pelaku Sarno sadar jika ia berasal dari sekolah yang sama dengan putranya. “Tolong.. berikan sepatu ini untuk anak saya. Kamu kenal Bagas? Dia anak saya, tolong berikan sepatu itu untuk dia.” Pinta Sarno dengan sisa nafas dan kesadaran yang berusaha dia pertahankan. Tapi tak lama setelahnya Sarno menghembuskan nafas terakhirnya sebelum berhasil memberikan hadiah sepatu untuk Bagas.
Aldo, laki-laki itu benar-benar syok kalau mengetahui jika pria paruh baya itu adalah ayah Bagas. Lantas bagaimana dia akan menghadapi Bagas jika laki-laki itu tahu jika dirinya yang telah membuat ayahnya merenggang nyawa. Tak lama pihak polisi datang dan salah satu dari mereka adalah Papa Aldo sendiri, laki-laki itu langsung berlari menghampiri Papanya.
“Pah, Aldo takut. Aldo nggak sengaja nabrak bapak-bapak itu, sumpah Pah.” Ucap Aldo bergetar, tangannya sudah panas dingin sekarang.
“Kamu tenang, ini semua akan papa urus, sekarang kamu ikut Liam. Kalian langsung pulang.” Liam datang menuntun Aldo menuju salah satu mobil polisi lalu mengantarkan remaja itu untuk pulang. Sebelumnya Aldo sempat mengambil sebuah kotak yang dibungkus menggunakan kertas kado, membawanya serta pulang bersamanya.
Bagas tak percaya jika tubuh yang sudah terbujur di dalam tanah sana adalah tubuh Bapaknya, dia tak menyangka jika Bapaknya akan pergi secepat ini. Padahal rasanya baru kemarin mereka duduk di depan rumah sambil makn gorengan sisa milik ibunya, tapi sekarang dia harus menelan pil pahit jika mulai sekarang taka da lagi sosok yang akan menemani dirinya duduk di sore hari. Tak ada sosok yang tiap sore mengayuh sepeda pulang ke rumah membawa senyuman serta kebahagian untuk mereka. Semuanya hilang saat tubuh itu mulai ditutupi oleh tanah merah yang memang akan menjadi selimut terakhir bagi semua orang.
“Bapak jahat karena pergi sebelum liat Bagas ikut turnamen. Bapak udah janji juga buat beliin Bagas sepatu baru, bangun Pak tempati janjiBapak sama Bagas.” Bagas menangis, menatap gundukan tanah didepannya saat ini. Marni hanya dapat mengusap bahu putranya itu, dirinya juga terpukul dengan kepergian suaminya itu.
“Gas, kita pulang.” Ajak Marni
“Tapi Bapak, Bu. Bapak udah janji sama Bagas.”
“Bapak udah tenang di sana Gas, kita harus terima kalau sekarang Bapak udah nggak ada lagi bareng kita.” Ucap Marni berharap Bagas mengerti. “Sekarang kita pulang ya? Ibu tahu kalau kamu capek.”
Bagas dengan setengah hati bangkit untuk pulang. Dia masih rindu dengan Bapaknya, dia masih ingin berlama-lama dengan Bapaknya disini. Banyak hal ingin Bagas ceritakan kepada Sarno, turnamennya diundur karena suatu hal dan Bagas bersyukur karena itu.
“Bagas pulang, Pak. Kapan-kapan Bagas datang lagi bareng ibu.”
Seminggu lamanya semenjak kepergian Sarno, Bagas kembali masuk sekolah. Bahkan dia harus melewatkan latihan rutin setiap sore karena masih dalam masa berkabung. Kali ini tak adaa lagi Bagas yang ceria, remaja itu hanya dia sejak Pelajaran pertama di mulai, bahkan dia enggan untuk memperhatikan setiap materi yang di jelaskan, tapi dia tetap memaksakan diri untuk itu.
Bel pertanda istirahat berbunyi tapi tak niatan untuk Bagas pindah dari bangkunya. Kini dia hanya menelengkupkan kepalanya diantara tangan. Dia berusaha untuk tidur karena itu akan membuat dirinya tenang dan hatinya sedikit membaik. Di dalam kelas bukannya hanya ada Bagas tetapi juga Aldo dengan temannyaa. Aldo merasa kasihan dengan keadaan Bagas, di tangannya terdapat sebuah kotak. Kotak itu adalah kotak yang dipinta oleh ayah Bagas untuk diberikan kepada Bagas.
“Gas.” Panggil Aldo.
Awalnya Bagas tak ingin menanggapi karena dia tahu apa niatan Aldo sekarang. Pasti laki-laki itu akan kembali mengatai dirinya, apalagi sekarang dia sudah tak punya Bapak lagi.
“Bagas, gue minta maaf.” Ucap Aldo. Kali Bagas mengangkat kepalanya menatap Aldo yang juga tengah menatap dirinya. Tak ada lagi tatapan tajam apalagi benci yang laki-laki itu hunuskan padanya, kini yang ada hanyalah tatapan sendu seolah dirinya nampak menyedihkan di mata Aldo.
“Ini hadiah yang seharusnya ayah lo yang ngasih, bukan gue. Tapi karena kesalahan yang gue perbuat, dia nggak bisa ngasih hadiah ini langsung sama lo. Bagas gue minta untuk segala hal yang udah gue lakuin sama lo selama ini dan gue juga minta maaf soal ayah lo. Karena gue dia kayak gitu.”
Bagas tak terkejut dengan pengakuan Aldo karena dia sudah tahu siapa orang yang sudah menabrak bapaknya, tapi apa yang bisa dia lakukan? Balik marah dengan Aldo? Apa hal itu bisa membuat bapaknya kembali lagi ke keluarga mereka? Lebih baik dia memaafkan Aldo meski rasa rela dan Ikhlas masih terus bersarang di dalam hatinya.
“Mau bagaimanapun aku tetap harus maafin kamu, karena kalau aku nyimpan dendam juga nggak akan berdampak baik buat kehidupan aku. Meski rasanya aku masih belum bisa terima atas kepergian bapak. Al, aku nggak marah sama kamu. Karena aku yakin saat itu ajal bapakmaku udah sampai di sana, mau ngelakpun kayaknya nggak bisa.” Bagas berusaha tegar saat berucap. Luka di hatinya kembali terbuka saat mengingat sosok bapaknya. Bagas tak ingin terlihat cengeng di depan orang lain, tapi memang air matanya sulit untuk dikendalukan hingga satu bulir itu jatuh membasahi pipi Bagas.
“Ini hadiah dari Ayah lo buat lo. Gue nggak tahu isinya apa, tapi gue rasa itu berharga buat lo.” Aldo memberikan kotak itu kepada Bagas, tak ingin menunggu lagi Bagas langsung membuka kotak itu. Betapa kagetnya dia saat melihat sepatu impiannya ada di dalam kotak itu. Bapak menempati janjinya untuk membelikan sepatu baru untuk Bagas, air mata Bagas kembali berlomba-lomba untuk keluar. Hatinya terharu, bahkan diujung ajalnya bapak masih ingat padanya.
Satu surat yang terselip antara sepatu jatuh, Bagas mengambil surat itu lalu membacanya.
Bagas, jagoannya Bapak
ini gas sepatu yang kamu mau itu, udah bapak beliin.
Koh aling baik, dia ngasih harga murah buat sepatu ini.
Bapak yakin gas kalau kamu bisa menang nanti pas ikut
Turnamen , karena bapak liat kamu rajin banget latihan
Sampek suka lupa harus pergi ngaji ke rumah pak wira.
Meskipun bapak nanti nggak liat kamu main, tapi percaya
Atau nggak doa bapak selalu menyertai kamu gas.
Jaga ibu gas, Cuma kalian berdua yang bapak punya
Nggak ada orang lain yang bapak punya selain kalian.
Oh ya gas, sepatunya harus di jaga baik-baik pokoknya,
Soalnya bapak nggak bisa janji bakal bisa beliin kamu
Lagi sepatu di masa depan. Kalau bisa lima tahun sekali
Beli sepatu biar uang bapak ditabung buat sekolah kamu.
Udah dulu, kebanyakan bapak nulisnya, lagian mah kita
Kan selalu ketemu di rumah.
Lagi Bagas tak bisa menahan air matanya. Seharusnya bapak yang menjaga ibu dan dirinya, bukan malah dirinya yang masih kecil ini. Aldo datang menghampiri Bagas dan langsung memeluk tubuh rapuh itu.
“Sekaran gada gue gas, gue bakal anggap lo temen kedepannya. Lo nggak akan ngerasa kesepian lagi kalau di sekolah. Ada gue, Johan, sama Jery, kita bakal jadi teman lo.” Ucap Aldo tulus. Mungkin sekarang dia sudah sadar dengan kelakuannya yang membuat orang lain terluka dan kecewa. Dan semua itu dirasakan oleh Bagas, semua sumber kecewa Bagas berasal dari dirinya.
“Aku kangen sama Bapak!”
“Bapak lo udah tenang di sana Gas, sekarang ada ibu lo, gue dan yang lain. Jangan ngerasa sendiri lagi.”
“Makasih, Al. aku butuh waktu sendiri buat sekarang, aku masih harus berdamai sama keadaan aku yang sekarang.”
“Silakan gas, tapi kalau nanti lo ngerasa butuh tempat sandaran, ada gue yang selalu ada kapan aja buat lo.”
Kini Bagas sudah mempunyai teman seperti apa yang dia inginkan, tapi dia juga harus kehilangan sosok yang begitu dia puja kehadirannya diantara keluarga kecilnya. Dan Aldo juga sadar, tak selamanya kelakuan jahatnya akan bertahan. Karena manusi mudah terbolak-balikkan hatinya. Lihat bukan, dulu dia begitu membenci Bagas, tapi sekarang dia malah mencoba untuk berteman dengan laki-laki itu.
*TAMAT*

